Filed under: News | Tags: 2009, antara, antaratv, bank century, hak angket, jakarta, sby
Filed under: News | Tags: antara, antaratv, departemen kehutanan, hutan, indonesia
Filed under: Teks | Tags: antara, antaranews, antasari azhar, nasrudin zulkarnaen, rani juliani, rekaman penyadapan
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pernah melakukan penyadapan terhadap Rani Juliani dan Nasrudin Zulkarnaen. Hasil sadapan itu akan menjadi bukti dalam sidang kasus pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, dengan terdakwa Antasari Azhar.
“Hasil itu dimasukkan dalam DVD dan akan menjadi bukti di persidangan,” kata Jaksa Penuntut Umum, Cirus Sinaga, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 24 November 2009.
Surat perintah penyadapan dikeluarkan Chandra M Hamzah yang kala itu masih aktif mempimpin KPK. Perintah penyadapan dilakukan setelah Antasari mendapat sejumlah teror atas jabatannya sebagai ketua KPK.
Chandra dijadwalkan memberikan kesaksian atas penyadapan itu hari ini. Namun, ia berhalangan hadir. Sementara dua saksi lainnya, yaitu Budi Ibrahim dan Ina Susanti, hanya Ina yang telah menyatakan diri hadir. Budi dan Ina adalah staf KPK yang diperintah melakukan penyadapan. Budi berhalangan hadir karena sedang mendapat tugas belajar ke Jerman.
Kasus pembunuhan Nasrudin menyeret sejumlah nama pejabat seperti Antasari Azhar, mantan Kapolres Jakarta Selatan Komisaris Besar Williardi Wizar, serta dua pengusaha yaitu Sigid Haryo Wibisono, dan Jerry Hermawan Lo.
Nasrudin ditembak usai bermain golf di Padang Golf Modernland, Cikokol, Tangerang, sekitar pukul 14.00, Sabtu 14 Maret 2009. Ia tewas 22 jam kemudian dengan dua peluru bersarang di kepalanya.
Filed under: Teks | Tags: antara, antaranews, wartawan, jurnalis, gerombolan bersenjatan, philipines, filipina, provinsi maguindanao, penembakan
Sedikitnya 36 orang tewas akibat penembakan yang dilakukan gerombolan bersenjata di Provinsi Maguindanao, Filipina bagian selatan. Sebanyak 12 diantaranya adalah wartawan dan dua lainnya polisi.
Stasiun televisi GMA News mengungkapkan bahwa penembakan berlangsung Selasa pagi, 24 November 2009. Penembakan itu diduga terkait persaingan politik dua keluarga yang berseteru dalam rangka pemilihan gubernur di Maguindanao.
“Belum pernah terjadi dalam sejarah media massa di mana banyak jurnalis tewas dalam sehari. Kami menyatakan simpati dan duka cita kepada semua jurnalis di Filipina yang terguncang setelah serangan brutal ini,” demikian pernyataan lembaga advokasi wartawan yang berbasis di Paris, Reporters Without Borders.
Pembantaian terjadi saat para pendukung Esmael Mangudadatu, disertai para wartawan, akan mendaftarkan tokoh pilihan mereka menjadi kandidat dalam pemilihan gubernur. Tiba-tiba muncul suatu gerombolan bersenjata untuk mencegah pencalonan itu. Tak lama kemudian terjadi penembakan. Kejadian fatal ini juga menimpa istri, saudara perempuan dan teman-teman Mangudadatu.
Sampai kini pihak keamanan masih memburu para penembak. Namun, keluarga Mangundadatu menuding klan Ampatuan sebagai pihak yang bertanggungjawab atas pembantaian itu.
Keluarga Ampatuan memimpin provinsi Maguindanao sejak 2001. “Mereka tidak ingin kami mengajukan kandidat dalam pemilihan gubernur mendatang. Ibarat mengelola bisnis, mereka ingin semuanya,” kata saudara kandung Esmael, Jong, yang menjadi walikota Buluan.
Keluarga Ampatuan belum memberi tanggapan atas tuduhan keluarga Mangundadatu. Andal Ampatuan, pemimpin klan dan gubernur Maguindanao, juga berkali-kali menjadi sasaran serangan. Dia mencurigai para simpatisan kelompok pemberontak Fron Pembebasan Islam Moro (MILF) berkali-kali merancang serangan atas dirinya.